WAKIL KETUA OKK PARTAI NASDEM GOWA MENGANGGAP PERBUP ADALAH BIANG KEROK CEDERANYA DEMOKRASI PADA PILKADES SERENTAK KAB GOWA
Ketua Umum Maha Karya (Makar) Indonesia menyoroti kinerja pihak kepolisian dan Kejaksaan Kabupaten Gowa, sekaitan dengan adanya beberapa calon kepala desa (Cakades) petahana yang tidak lolos, karena adanya temuan dari inspektorat.
Ia pun menantang kepolisian dan kejaksaan, untuk mengungkap temuan tersebut sebagai kado istimewa, di Hari Anti Korupsi 9 Desember mendatang.
"Kepolisian dan kejaksaan harus menindaklanjuti, karena tindak pidana korupsi bukan merupakan delik aduan. Jadi seharusnya penyidik kejaksaan maupun kepolisian wajib melakukan penyelidikan dan penyidikan bagi Kepala Desa yang tidak lolos karena ada temuannya," harap Syafriadi Djaenaf Menurutnya, inspektorat dan para calon Kades yang punya temuan, terindikasi ada kongkalikong, sepertinya dugaan terhadap Inspektorat yang dianggap berkonspirasi terhadap temuan tersebut ada benarnya.
"Kalau begini, temuan itu terkesan ditutup-tutupi dan tidak ditindaklanjuti oleh pihak kepolisian dan kejaksaan. Maka tidak terkesan terbuka. Ini harus diangkat ke permukaan. Jangan ada yang ditutup-tutupi. Harapan kami, kepolisian dan kejaksaan segera mengungkap temuan dari inspektorat, karena ini akan menghambat pembangunan desa dan masyarakat desa," ungkap Syafriadi, Kamis (8/12/2016).
Ketua OKK NasDem Kabupaten Gowa itu juga menambahkan, adanya Peraturan Bupati (Perbup) yang jadi patokan tersebut, sama halnya ada penjegalan bagi petahana, juga ada kesan untuk menjatuhkan kandidat lain dengan membuat persyaratan tersendiri dan sangat dadakan .
"Seharusnya kalau ada temuan ada tindak lanjutnya. Perbup ini memang hanya untuk menjegal saja. Buktinya mana. Belum ada terekspos soal temuan di Inspektorat. Seandainya Perbup ini hadir lalu temuan itu ditindaklanjuti. Maka kesan lebih bagus lagi," tambah Syafriadi.
Tak hanya itu, lahirnya Perbup itu terkesan mengada-ada. Bahkan dilahirkannya Perbup, sama saja halnya dengan pemilihan Mubes organisasi lokal.
"Apabila kita ingin menjegal kandidat lain, maka dilahirkan secepatnya mekanisme dan persyaratan buat kandidat yang sudah diprediksi tidak bisa dipenuhi oleh kandidat. Karena mengingat waktu yang sangat singkat, dan kesannya mengada-ada," tutup Syafriadi.

Komentar
Posting Komentar